Danau Purba Cikijing

Silahkan ini di cap sebagai isapan jempol semata, saya tidak peduli, karena saya bukan siapa-siapa dan secara keilmuan pun sangat-sangat jauh untuk dipecaya sebagai kajian ilmiah, apalagi saya tidak bergelar strata pendidikan karena biasanya orang lebih menganggap ilmiah pada tulisan yang dibuat orang bertitel.

Ini hanyalah sebuah analisis prematur saya terhadap lingkungan saya sendiri yang kebetulan saya dilahirkan dan dibesarkan di Cikijing, Jawa Barat. Dimana kawasan ini tepat berada di kaki gunung Cereme yang dari tahun 2004 statusnya meningkat menjadi Taman Nasional Ciremai (BTNGC).

Cereme dilihat dari Waduk Darma

Cereme dilihat dari Waduk Darma

Dasar Pemikiran

  1. Melihat dan membaca tentang Danau Purba Bandung di internet dan teringat gurauan saya di facebook mengenai bahwa ‘’Cikijing teh kurang leuwih sarua jeung Bandung….
  2. Saya jadi teringat dulu teman saya cerita tentang sesepuhnya yang pernah bilang bahwa Cikijing itu merupakan sebuah danau dan akan kembali jadi sebuah danau.
  3. Akhirnya saya buka google dan saya bandingkan dengan peta situs danau purba bandung.. eh ternyata ada kemiripan.
  4. Pikiran saya langsung menjurus ke sejarah Talaga Manggung karena Cikijing memang dulunya dibawah kewadanaan Talaga.

Danau Purba Cikijing
Danau purba ini entah apa namanya, mau disebut Danau Purba Talaga ? silahkan ! hanya mungkin lucu juga sebab danau kan kurang lebih artinya sama dengan Telaga (talaga; sunda) jadi selanjutnya kita sebut saja Danau Purba Cikijing ya… hehehe… silahkan protes !

Danau Purba Cikijing 2Danau ini terbentuk berbarengan dengan lahirnya gunung Cereme generasi kedua (Gn. Api Gegerhalang). Gunung Cereme merupakan gunung api generasi ketiga, generasi pertamanya ialah suatu gunung api plistosen dan generasi keduanya adalah gunung Gegerhalang yang meletus dan membentuk kaldera yang memunculkan gunung Cereme sekarang dan diperkirakan terjadi sektir 7.000 tahun yang lalu (wikipedia.org; Situmorang,1991). Namun ketika Gegerhalang meletus dan melahirkan gunung Cereme, danau ini mungkin terkubur material letusan Gegerhalang sehingga terjadi pendangkalan dan berubah menjadi rawa (Rancah_Sunda). Danau Purba Cikijing ini berada di ketinggian 600-650 mdpl dengan luas ± 115.635.191 m² yang membentang dari timur hingga ke barat, di ujung barat dari danau ini mengalir sungai Cilutung dan sebelah selatan mengalir pula sebuah sungai ke arah ciamis yang sekarang sudah hilang dan mungkin berubah jadi jalan raya Cingambul-Ciamis. Sungai sungai ini berfungsi sebagai tempat buangan air dari danau purba tersebut.

Kerajaan Talaga Manggung
Sejarah tentang kerajaan Talaga Manggung memang masih banyak ditelusuri dan diteliti, diantaranya, dimanakah letak kerajaan ini? kenapa di beri nama kerajaan Talaga Manggung? Kalau melihat dari arti kata; Talaga(Danau), Manggung (atas), atau bisa juga dari kata Panggung; Manggung berarti naik ke panggung/atas, jadi Talaga Mangggung berarti danau yang berada di atas. Definisinya berarti kerajaan Talaga Manggung adalah sebuah kerajaan yang terletak di sebelah barat gunung Cereme dekat sebuah danau yang posisi danau tersebut berada di dataran ketinggian.Penalaran ini setelah saya membaca tentang Bujangga Manik; seorang pengembara keturunan bangsawan dari kerajaan Pakuan yang pernah melintasi daerah sekitar gunung Cereme.

1195. Itu ta bukit Caremay,
tanggeran na Pada Beunghar,
ti kidul alas Kuningan,
ti barat na Walang Suji,
inya na lurah Talaga.

1715. pramata ko(m)bala hi(n)ten,
sarba e(n)dah sagala.
Pakarang cacaritaan,
Carita Darma Kancana,
ti manggung kula(m)bu hurung,

1720. ti ha(n)dap kulambu le(ng)gang,
paheutna naga pateungteung,
di tengah naga werati,
ti handap naga paheu(m)pas,
Werak ngigel di puncakna,

Sampai saat ini masyarakat memilih Situ Sangiang sebagai daerah dimana pernah berdiri kerajaan Talaga Manggung ini, memang masuk akal juga kalau melihat letak geografisnya, Situ Sangiang berada di ketinggian 1.000 mdpl persis di bawah gunung Gegerhalang dan disekitar Situ Sangiang sebelah timur terdapat kawasan yang datar dan cukup luas untuk sebuah kerajaan, menurut perkiraan saya tempatnya sekarang antara Citaman, Sangiang, dan arah ke Bunut. Hanya saja kemungkinan pas kejadian gunung Cereme meletus dahsyat keadaan sekitarnya banyak berubah, kalau memperhatikan Gegerhalang sebelah barat sekarang, bekas longsorannya masih terlihat jelas. Tapi ada juga yang bilang bahwa letaknya ada dibawah Situ Sangiang di daerah Desa Kagok Kec. Banjaran yang bernama daerah Walang Suji.

Masih simpangsiurnya letak dimana istana kerajaan ini memunculkan berbagai kemungkinan-kemungkinan karena tidak sedikit pula yang menyakini bahwa kerajaan Talaga Manggung ini perkiraannya berada di daerah ibu kota Kec. Talaga sekarang, letaknya memanjang dari Desa Salado, Talaga Wetan, sampai ke Desa Talaga Kulon sebab memang hanya daerah itu yang dianggap datar dan cukup luas untuk sebuah kerajaan. Jika keberadaan Danau Purba Cikijing ini benar, berarti cerita danau purba inilah yang dipakai untuk nama kerajaan Talaga Manggung karena Danau Purba Cikijing ini berada di ketinggian 600-650 mdpl. Apakah waktu jaman kerajaan masih berupa danau atau sudah berubah jadi Rawa (Ranca_sunda)? itu perlu penelitian lebih lanjut. Mengapa Bujangga Manik tidak menyebut-nyebut daerah danau atau rawa ini, mungkin karena waktu itu dia hanya menelusuri sebelah utara gunung Cereme.

Dari daerah Salado, Ganeas, Cipeucang, Sampai Kota Talaga, memang merupakan bukit yang landai kecuali sebelah selatannya hampir berupa jurang karena mungkin waktu dulu itu merupakan tebing yang berbatasan dengan danau purba, sehingga menurut saya tepatlah kalau misalkan daerah ini dicurigai sebagai lokasi kerajaan, dari sanapun leluasa melihat seberang danau yaitu gunung Bitung dimana tempat Raden Panglurah bertapa dan memang pada awalnya juga raja Talaga Manggung ini merupakan keturunan dari kerajaan Galuh yang memang posisinya berada di selatan Gunung Bitung.

Letak Geografis
Berada di kaki gunung Cereme sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Kuningan sebelah Timur, dan Kabupaten Ciamis sebelah Selatan. Danau ini secara administratif masuk wilayah Kec. Cikijing, Kec. Cingambul, dan Kec. Talaga di Kabupaten Majalengka. Dahulu wilayah ini masuk kedalam kekuasaan kerajaan Talaga Manggung, mungkin saja nama kerajaan juga di ambil dari cerita orang dulu bahwa kerajaan ini terletak di dekat sebuah Danau yang berada di kaki gunung, yaitu Danau Purba Cikijing ini, sebab logikanya bahwa setiap manusia demi penghidupannya selalu memilih tempat yang lapang dan dekat dengan sumber air.

Danau Purba Cikijing 1Danau ini di aliri Sungai Cilutung yang berhulu di gunung Gegerhalang, sekarang ini mungkin karena pergeseran jaman sungai ini dari hulunya sudah mengering adapun sekarang di wilayah desa Campaga masih mengalir dengan debit yang masih sangat besar, itu karena kantong kantong sumber air di wilayah Cikijing yang masih tersedia dan mengalir ke sungai ini.

Areal yang dicurigai sebagai Danau Purba Cikijing, ini memang berupa cekungan yang dikelilingi gunung dan perbukitan, di sebelah timur ada Gunung Panenjoan, Perbukitan Cipadung, di sebelah Selatan ada Gunung Bitung, di sebelah Barat ada perbukitan Cibeureum dan Cikeusal, di sebelah Utara ada Gunung Gegerhalang dan Cereme.

Sumber Air
Hampir semua mata air di kawasan Gunung Gegerhalang sebelah selatan mengalir kedaerah Danau Purba Cikijing, selain danau ini merupakan penampungan air hujan, sungai utama Cilutung juga mengaliri danau ini, banyak sungai yang telah menghilang airnya, dan mengalami penyempitan.

1. Sungai Cilutung
Sungai ini berhulu di Situ Cileunca persis di bawah puncak Gegerhalang sebelah selatan, diareal ini tepatnya di bawah lokasi situ terdapat maka kuno yang mulai tersiar kabarnya sekitar tahun 2001, itu setelah dilakukan penelusuran oleh anggota Karang Taruna Ciinjuk. Areal pemakaman ini dikeramatkan, terutama makam Embah Jambrong (Banyu Geni), jumlahnya sangat banyak bahkan masih ada yang belum di bersihkan dari semak belukar. Memang sangat aneh ditengah hutan belantara ada makam yang berjumlah hampir 40 makam. Apakah disana dulunya perkampungan ? memang perlu penelusuran lebih dalam.

Bendungan Cilutung yang sudah mengering di Ds. Gunungsirah

Bendungan Cilutung yang sudah mengering di Ds. Gunungsirah

Sungai Cilutung mengalir melewati beberapa daerah diantaranya Cipulus, Gunungsirah, Colom, Jagasari, Gumuruh, Sindang, Jatipamor, dan Campaga. Sekarang sungai ini dari Gegerhalang sudah kering dan sumber airnyapun hanya berasal dari leuwigeni(Langkob) di desa Jagasari.

Sumber air Cilutung yang sekarang berasal dari Leuwigeni Ds. Jagasari

Sumber air Cilutung yang sekarang berasal dari Leuwigeni Ds. Jagasari

Keadaan sungai Cilutung di Gumuruh, Ds. Kasturi

Keadaan sungai Cilutung di Gumuruh, Ds. Kasturi

Sungai Cilutung dimanfaatkan untuk pengairan sawah di Ds. Jatipamor

Sungai Cilutung dimanfaatkan untuk pengairan sawah di Ds. Jatipamor

2. Sungai Cipadung
Sungai ini juga mengalir ke Cilutung, tepatnya berada di desa Sindangpanji, dan sumber airnya dari Gunung Panenjoan, sungai ini bisa dikatakan telah mengering karena terpengaruh musim, apabila musim kemarau datang sungai ini mengering. Di sungai ini karena kondisi tanahnya curam, maka banyak di temui curug-curug kecil dengan ketinggian 2-3 meter sayang lokasinya tidak terawat, padahal ini merupakan aset bagi Kec. Cikijing dalam segi pariwisata disamping usaha pelestarian alam. Aksesnya pun sangat mudah karena dekat dengan jalan raya Cikijing-Kuningan. Dari kota Cikijing hanya memerlukan waktu tidak kurang dari 15 menit.

Salah satu Curug Batulawang di Sungai Cipandung, Sindangpanji

Salah satu Curug Batulawang di Sungai Cipandung, Sindangpanji

Komunintas AIR (Aktivitas Rimbawan) pada bulan Maret 2012 mencatat ada 7 buah Curug yang ada di aliran sungai ini dan diberi nama Curug Batulawang. Menurut cerita para orang tua, bahwa ada satu curug lagi yang dulu sangat terkenal dan sampai terlihat ke daerah Campaga.

Cekungan batu yang menyerupai goa di salah satu curug Batulawang, Sindangpanji

Cekungan batu yang menyerupai goa di salah satu curug Batulawang, Sindangpanji

Di Cipadung batuannya berupa batuan cadas yang sering dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk bahan pembuatan Batu Nisan dan Batu Asahan, kalau kita main kesini bekas tempat galiannya yang berupa cekungan-cekungan menjorok ke dalam tebing menyerupai goa-goa kecil, namun jalan dari Curug satu sampai tujuh masih dalam tahap pembenahan dan arealnya pun masih perlu ditata sehingga nantinya memudahkan pengunjung yang berniat kesana.

Sawahlega (Rancah)
Inilah kawasan sekarang yang ditenggarai sebagai bekas Danau Purba Cikijing, di kawasan persawahan ini pun terbagi-bagi lagi menjadi beberapa nama sesuai dengan wilayah, mitos, legendanya masing masing. Namun satu hal yang sama bahwa hampir merata kawasan ini merupakan sawah dalam (Rancah/Rawa). yang masih saya ingat waktu kecil sekitar tahun 1989 di bagian tengah dari kawasan Sawah Lega ini, yang sekarang jalan Cikijing-Ciamis, para petani untuk memanen padinya harus menggunakan perahu kecil, sebab kedalaman lumpurnya pun pada waktu itu sampai paha bahkan bisa mencapai pinggang orang dewasa.

Sawahlega; yang ditenggarai sebagai bekas danau; dilihat dari Cipadung

Sawahlega; yang ditenggarai sebagai bekas danau; dilihat dari Cipadung

Sunset Sawahlega; dilihat dari Cipadung

Sunset Sawahlega; dilihat dari Cipadung

Di kawasan sebelah timurnya banyak sekali dijumpai Kijing dan Remis; sejenis kerang yang berwarna kekuning-kuningan berbentuk menyerupai hurup D, dan dari nama sejenis kerang inilah akhirnya muncul nama wilayah Cikijing.

Kijing (sejenis kerang) yang sekarang jarang dijumpai di Cikijing

Kijing (sejenis kerang) yang sekarang jarang dijumpai di Cikijing

Kesimpulan
Danau Purba Cikijing memang masih perkiraan, sebab perlu adanya penelitian dari orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Namun apabila benar adanya, maka banyak yang akan tergali dari sejarah di sekitar danau ini. Kebanyakan sejarah berawal dari cerita dulu atau Folklor, namun alangkah bijaknya apabila kita tidak terlalu cepat memvonis bahwa itu adalah hanya sebatas mitos atau legenda. Di Rusia saja mereka memerlukan waktu 20 tahun untuk meneliti keberadaan danau purba yang tertimbun es.

Belum lagi riwayat-riwayat tokoh dahulu di kita yang sangat berjasa dalam upaya ngababak suatu wilayah, yang berjasa dalam penyebaran Islam, sehingga kita sekarang nyaman berdiam di wilayah ini. (Hal ini belum sempat saya telusuri, karena pasti memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit).

Kita sebagai orang Cikijing khususnya, mengapa tidak mencoba menggali potensi sejarah, alam, dan budaya kita? apa karena kita penduduk yang mayoritasnya adalah pebisnis? saya takut ini akan berdampak nantinya, saya yakin kedepan, bahwa seiring dengan kebutuhan manusia akan hunian, maka tanah akan semakin sempit, hutan akan semakin gundul, dan air akan semakin kering. Singkatnya… MUSIM KEMARAU KEKERINGAN, MUSIM HUJAN KEBANJIRAN DAN KELONGSORAN.

Dengan awalnya mengenal sejarah, mengenal wilayah, dan bisa melihat dampak dari kemerosotan kualitas lingkungan di wilayah kita, Saya hanya berharap bahwa nantinya ada orang yang mampu untuk melakukan terobosan dalam upaya pelestarian lingkungan di wilayah Kec. Cikijing ini DEMI KEPENTINGAN BERSAMA.

 Salam Lestari.

Advertisements
This entry was posted in Cikijing and tagged , , , . Bookmark the permalink.

73 Responses to Danau Purba Cikijing

  1. waow…sampe sedetail itu kang…. mugia manfaat kanggo balarea ^_^”

  2. tatang says:

    Karena antara Talaga dan Cikijing sampai batas kabupaten Ciamis itu datar, saya pernah “mencurigai” asal-usul nama Kerajaan (Ketumenggungan) Talaga itu dari talaga (tadaga) “telaga cikijing” ini. Tapi kemudian meragukannya, karena “tadaga” (Snaskerta) itu artinya danau kawah, bukan sekedar situ. Nama kerajaan Talaga ya Talaga, bukan Talaga Manggung, setidaknya seperti yang dikatakan Bujangga Manik dalam nukilan di atas, dengan ibu kota (ketika itu) Walang Suji (Kagok). Talaga Manggung (Tumenggung Talaga) itu nama salah satu rajanya (yang saya duga pendiri pertama “kerajaan Talaga” yang bukan kebataraan, sudah kekesatriyaan. Kedua, kalau iya pun bekas danau purba, artinya itu masanya jauh sekali dari masa Ketumenggungan (“Kerajaan”) Talaga berdiri. Pasti ribuan tahun diperlukan untuk sebuah danau besar mengering, setidaknya menjadi rawa (nama desa Rawa masih ada, kan?!). Tapi, tuturan ilmiah yang menarik juga. Konon salah satu warga Talaga yang mengomentarai blog saya sekitar paparan tentang Kerajaan Talaga menyebut wilayah ini kata orang tua-tua dulu disebut Jalatunda (artinya air yang muncrat dari tanah, sederhananya sejenis sumur, maka suka ada nama sumur Jalatunda). Jadi, telusuri terus, termasuk nama-nama yang ada di sekitar area tersebut, jangan pakai legenda, tapi pakai toponomi (nama-nama yang dikaitkan dengan keadaan geogrgafis dan atau flora fauna–cikijing, misalnya, karena banyak kijing (remis lonjong), sunia dari kata sonya (sunyi–tempat menyepi), walang suji (karena banyak bongborosan walang dan pandan suji).

    • Hutan Rimbun says:

      Terima kasih masukannya, akang lebih melengkapi/menambahkan dengan menitik beratkan pada sejarah Kerajaan Talaga Manggung-nya.
      saya juga ingin lebih menggali informasi yang lainnya, hanya saya lebih fokus ke wilayah sekeliling Sawah Lega (yang di anggap bekas Danau Purba).

  3. tatang says:

    Catatan tambahan: Ketinggian danau (yang diduga danau purba) dalam peta yang Anda buat tentu di bawah 600dpl, sebab yang 600dpl itu perbukitan yang mengelilinginya. Saya cek lewat google map tidak ada keterangan berapa ketinggian tanah dataran itu, yang ada sekelilingnya! Terima kasih. Selamat berkarya!

    • Hutan Rimbun says:

      benar kang itu hanya perkiraan saya saja dengan melihat google map (medan), adapun lebih tepatnya memang benar harus di teliti sama orang yang berkompeten (dan maaf saya belum kompeten di bidang itu), hanya saja untuk dugaan atau cerita/mitos/legenda bisa jadi kajian ilmiah perlu data-data atau bukti.. minimal obsidian yang di temukan di sekirat wil. yang di curigai. dan itu saya belum punya.

  4. tatang says:

    Catatan tambahan lagi. Raden Panglurah konon bertapanya di Ujung Kulon. Ujung (kaki bukit yang menjorok) yang ada di “kuloneun” (sebelah barat) Gegerhalang, di atas Argalingga. Bisa dilihat di peta buatan Belanda pada blog saya, atau ketik “gunung gegerhalang” klik image. Itu sebabnya maka ibu kota Kerajaan Talaga (Ketumenggungan Talaga – bagian dari Kerajaan Pajajaran) pertama-tama mungkin di Walangsuji, Kagok, Banjaran, sebelum kemudian dipindah ke Talaga pada masa-masa akhir, dan nama “kota” Talaga kemungkinan besar baru muncul setelah jadi ibu kota Kerajaan Talaga. Sekali lagi Talaga sebagai kerajaan disebut Bujangga Manik sebagai “lurah Talaga” sementara ibu kotanya disebut Walangsuji, sementara Kuningan disebut dengan “alas Kuningan.” [“ti kidul alas Kuningan, ti baratna Walang Suji, inya na lurah Talaga”]. “Luran” bisa mengandung arti lembah, bisa berarti “kelurahan” (daerah pemerintahan lurah–sebutan untuk kerajaan kecil bawahan Pajajaran, mungkin]. Tolong jelajahi Garawastu, ada apa di sana, siapa tahu ada kuburan keramat makam Bagawan Garawastu.

  5. tatang says:

    Yi, coba ditelusur ulang itu makam kuno Cileunca Embah Banyu Geni, seberapa kuno. Yang sederhana, apakah makam-makam itu berantakan rusak, atau masih utuh berupa makam. Jika masih relatif utuh, pasti itu ada jauh setelah Gegerhalang meletus. Jadi kemungkinan pada masa “kerajaan Talaga.” Kedua, siapa yang menyebut Embah Jambrong, siapa pula menyebut Banyu Geni (ini jelas bahasa Jawa–banyu artinya air, geni artinya api — Sunda kuno menyebutnya “apuy” — Indonesia modern menyebutnya api). Banyu Geni nama daerah bukan? Kan ada nama Leuwigeni. Itu artinya sama dengan “cipanas,” yang bisa karena banyak belerang, bisa pula ada percikan api merembet dari kawah (seperti Apuy di Maja, ada kemungkinan memang di situ ada api — yang karena dekat dengan Cibodas tempat pertama kali usaha pertambangan minyak bumi –aardolie kata Walanda–di Indonesia, mungkin di daerah itu baheulana ada semburan gas berapi. Banyu Geni itu sedekat apa sih dengan Darmalarang yang saya “duga” sebagai tempat pertama kali Begawan Darmasuci I bertahta dalam kerajaan-kebataraan yang dilanjutkan Darmasuci II (Prabhu Talaga Manggung) yang menjadikannya menjadi kerajaaan-kesatryaan dengan nama Kerajaan Talaga (jika sebagai bagian Pajajaran disebut Ketumenggungan Talaga–seperti sering disebut-sebut Raffless–“tumung gung a Talaga”). Jika dekat Darmalarang, ada kemungkinan pemakaman itu ya pemakaman penduduk masa Darmasuci I. Jangan-jangan Embah Jambrong itu Prabhu-Baghawan Darmasuci I ?!

    • Hutan Rimbun says:

      Makam Mbah jambrong persis di bagian selatan Gegerhalang, komplek pemakaman tersebut di tengah hutan belantara dan hanya memamakai 2 buah batu sebgai cungkupnya, dan itu banyak… dan yg sudah rusak dan itu jg mencuat setelah di tata kembali oleh karang taruna Ciinjuk.

  6. tatang says:

    Wah, lihat di google map, Darmalarang di utara, ya. Banyu Geni di selatan!

    • Hutan Rimbun says:

      kalo akang patokannya puncak Ceremai atau Gegerhalang….
      Darmalarang itu (Barat Daya) sedangkan Makan Embah Jambrong persis di bawah puncak gegerhalang sebelah selatan, dan Leuwi Geni jauh di kaki gegerhalang sebelah selatan..

  7. Zhies C'Boedax Remayz says:

    I DON’T KNOW I WANT SAY WHAT…????

  8. tatang says:

    Haduh, siapa atuh Mbah Jambrong teh? Ke dilacak tah istilah jambrong teh susuganan aya tapak lacak toponomi bukan sekedar “jambrong” ku buuk, hehehe. Leuwi geni mah pasti dari geni (api) atau Agni (dewa api Hindu). Di Sunda mah pan seuneu, nya, teu aya geni. Jadi, ada yang menyembah Dewa Agni di situ, kemungkinan.

    • Hutan Rimbun says:

      hehehe… duka tah kang…
      namun abdi pernah maos tina blog sebalah tentang “Darmaloka” di desa Darma, saurna peperang sareng karajaan talaga manggung teh pernah oge di daerah gunung pucuk caket geugeur halang.. perkawis nami.. abdi tos lami te katempat eta… mung pami teu lepat di lokasi aya tulisan namina makam Eyang Banyu Geni (mbah Jambrong)

    • Agoes Djoekoet says:

      Di antos ku abdi pak Tatang

  9. budi mulyono says:

    aduh senang sekali ngabandungan diskusi sapertos ini….coba kalau internet isinya sapertos kieu sadayana…maka bangsa indonesia bakal jaya…abdi sanaos urang jawa anu ayeuna lenggah di semarang ngaraos bingah ngabandunganana…abdi kantos nyimpang di around talaga..mangga diteraskeun penelitiannya..salam (budi mulyono)

  10. doel's says:

    sampurasun gan.betul gan saya dukung analisanya,soalnya saya juga pernah denger dari ortu saya bahwa ciranjeng itu asal kata dari ranjeng yg artinya saluran air(kokocoran dari sebuah bendungan),begitu katanya.entah betul atau tidak,tp kalau dilihat letaknya bisa jadi betul.sekian terima kasih.

  11. doel's says:

    maaf nyambung. Bisa dilihat di sejarah desa ciranjen.blngspo.com

  12. kalo di lihat dari keadaan alamnya sih bisa saja kang
    tp bagaimana apabila di bandingkan dengan sebelah kulon ngidul talaga sepert daerah bantarujeg dan malausma kayanya masih tinggian daerah cikijing nya

  13. tarenna says:

    wah rame yeuh.d lembur kuring aya karajaan 🙂 , bakal aya berita anyar deui keur ilmu sekarah indonesia lamun penelitianna sukses, semangat

  14. Jaga raksa says:

    Menurut abi mah di darmalarang kerajaan talaga manggung teh soalna handapeun situ darmalarang nu ayeuna jadi pesawahan teh ngabentuk siga jalan kahandap jadi ti handap mah krajaan teh manggung situ darmalarang ge sami jero no sampe sa cangkeng orang dewasa,

    • Hutan Rimbun says:

      @Jaga Raksa; hatur nuhun kana responna… rumaos abdi masih deet dina ngenaan nelusuri Sajarah Talaga Manggung … panginten Kang Tatang nu langkung paos mah kana sejarah eta..

  15. yoker says:

    Punten aah..dilanjut mengenai jati diri mbah jambrong/mbah Banyu Geni……Saya dari cilacap jawa tengah,kakek saya dari rancah ciamis…dulu kata kakek masih keturunan dari mbah jambrong/embah banyu geni…nuhun

    • Hutan Rimbun says:

      @Yoker; sami sami… ngenaan Mbah Jambrong/Eyang Banyu Geni.. abdi mung sakali pernah ka lokasi makamna.. sekitar tahun 2001. handapeun Gn. Gegerhalang, pernahna di handapen Situ Cilenca pami teu lepat… disabuderen makam Mbah.. seueur makam makam nu sanesna aya kana 50 makamna kirang langkung.. daerah na datar… luhurna situ cilenca.. nu mangrupakeun sumber cai.. hoyong abdi ge nelusuri deui teh..mung gening can aya waktos wae.. mugia kasampeur kapayunna..

  16. aan says:

    Sakedar nambahin di barat cikijing ada situs batu panjang letaknya di desa cinta asih kampung jahim .brangkali ada hubunganya dngan talaga manggung atou danau purba cikijing
    Yg sekarang juga seperti danau kl musim penghujan

    Kl anda lihat poto yg menapilkan sungai cilutung
    Gumuruh kl msm hujan itu seperti danau kebetulan poto yg diatas samping sungai cilutung itu rumah saya.

    • Hutan Rimbun says:

      hatur nuhun kang Aan.. muhun kang abdi ge hoyong maluruh deui..abdi sabab perkiraan abdi seueur makam atanapi patilasan sesepuh daerah urang anu tempatna sisi daerah anu diperkirakeun tilas Danau Purba tea.. sapertos di daerah Sindangpanji, Cidulang, Cikijing..rata rata makam sesepuh teh di pinggir wilyah danau purba ieu. sakali deui htr nuhun.

  17. heri suprapto says:

    Analisis yg sangat layak unk dijadikan dasar unk penelitian yg serius.
    Makasih Kang Hendra

  18. edon79 says:

    Salam kenal. Artikel yg sangat bgs. Bisa komunikasi lbh lanjut? Ini ada temen yg mau meniliti situ cikijing.. tq. M. Afifi. 0817107633

    • Hutan Rimbun says:

      salam kenal juga kang… kalau mau meneliti lebih jauh silahkan aja…bebas koq.. 🙂
      saya senang kalau daerah ini nantinya ada data data yang lebih akurat dan lengkap

  19. bayonkz13ian says:

    Sangat menarik kang artikelnya, saya juga punya pemikiran yang sama dengan akang. Sebenarnya kecurigaan saya adalah
    1. mengapa di dataran tinggi seperti cikijing ada daerah yang cukup lapang,
    2. Sama seperti pemikiran akang bila makam-makan tua kebanyakan ada di pinggir danau purba, tapi selain itu kemudian coba perhatikan wilayah pemukiman di daerah talaga cikijing dan cingambul berada di lereng lereng perbukitan dan pegunungan, mengapa tidak ada yang berada di tengah yang akang sebut sawah lega? dan bila dikaitakan juga dengan petilasan kerajaan talaga, petiasan-petilasan tersebut berada di sebelah barat danau(kalo emang ada) seperti daerah cikeusal maupun campaga.
    3. Unik ketika ada Desa bernama ‘RAWA’ di pegunungan seperti cikijing
    4. Pada peta belanda tahun 1922 yang di copy militer amerika pada tahun 1944, di sekitar desa Rawa terdapat sebuah situ(danau) mungkinkah ini sisa-sisa dari keberadaan danau purba cikijing? Namun saya sudah kroscek sekarang situ/danau tersebut sudah tidak ada berubah menjadi sawah.

    Kapan-kapan mungkin kita bisa tracking kang menjelajah wilayah yang menjadi dugaan danau purba cikijing.

  20. RunningMan Lover says:

    banyak hal-hal yang ternyata tidak pernah saya tahu selama ini tentang kampung halaman sendiri.. Hutan Rimbun DAEBAKKKKK!!!! 😀

  21. dr. toto hermanto says:

    abdi urang cikijing nu ayeuna lengfah di banyuwangi ngaraos prihatin ngenaan sajarah cikijing. teraskeun kang perjuangan teh kanggo sajarah cikijing. pribados di banyuwangi ngadua. hatur nuhun. TERUSKAN PERJUANGAN kanggo CIKIJING

  22. Agoes Djoekoet says:

    Punten kang ngiring maca catetan, menarik pisan sasakala teh yeuh,
    Punteng kang, ngeunaan komplek pemakaman tua di lereng ciremai (embah jambrong) teh aya deui teu jujutanna, margi kapungkur abi kantos ngaprak teu kahaja ka eta komplek makam teh. Asa emut2 hilap, dina batu nisan pami teu hilap mah aya nami duka saha nu nganamian na, di sekitaran aya babalongan caina herang, sasaungan sapertos gazebo, sapalih makam di pager, nu sanesna nyebar.
    Ningal jam pas dugi ka dinya tabuh 4 sorean, abdi sareng rencang saurang ngalaman linglung sakedap (40 menitan) saentos teu kahaja abdi ngadupak paesan/nisan, memang da alit ukur batu nanceb jiga tunggul teu katingal ku rimbunna jukut, pas di tingal diraba2, ternyata seueur batu naranceb rapi siga makam biasana. Allhamdulillah bari teras ngado’a kanu kawasa, abdi duaan tiasa nimukeun jalan uih deui ka jalan asal.

    Hatur nuhun sateuacanna kang, diantos cariosna

    • Hutan Rimbun says:

      Kang Agus… ngenaan makam-makam nu aya di gn. pucuk eta memang seueur pisan, namun perkawis sejarahna abdi ge teu patos terang. memang daerah eta teh mangrupakeun jalur pendakian oge ti daerah Ciinjuk (Cikijing), di palih luhurna aya persimpangan, nu ka kiri ka jalur Apuy nu ka kanan jalur Palutungan (Pangguyangan Badak)

      • Agoes Djoekoet says:

        Oh kitu kang, nuhun nya infona, sok geura ngalalana asruk asrukan muru sasakala deui kang, bermanfaat pisan kangge sadaya nu maca

  23. dany sundanist says:

    wahhh unik kang asli,,
    bisa bener oge tah rancah teh sisana

  24. cebi says:

    wah analisa dan referensi nya si akang2 bgs jg. Orang tua sy kebetulan dr Cikijing.Lanjutkan terus kang penelitianya. Soalnya Cikijing byk menyimpan misteri, terutama misteri yg berkaitan dgn sejarah sunda. semoga karya nya bermanfaat bagi kita semua..#salam syanghyang meri#

  25. istu says:

    Sy sering lewat desa rancah, rajadesa, kalau pulang atau pergi dari banjar ke cirebon sepanjang perjalanan ada bekas jalur sungai yang sudah nggak ada airnya…yang jadi pertanyaan dimana kah hulunya…mungkinkah dari danau purba yang ϑϊ cikijing?…perlu di teliti oleh ilmuwan…

  26. fahmii says:

    Waaaahh . Talaga memang tempat sejarah dari keturunan siliwingi . Benar adanya mungkin menurut sejarah siliwangi sebar cukai. Di buku sejarah yang kini sudah jarang dijumpai.
    Kerajaan talaga manggung memang ditulis seperti itu dan benar adanya, tapi di buku sejarah juga ditulis bahwa disekitar bantarujeg, cipeundeuy tempatnya. Disitu ada sebuah makam kuno asli cucu siliwangi. Tapi disini saya tidak melihat itu .
    Mohon penjelasan na kang . Hatur nuhun

  27. heru says:

    haturnuhun uraiannya Kang, komplit isinya. ditunggu artikel/uraiannya yang lain. sangat bermanfaat

  28. arip says:

    I
    / /
    / \____
    /’ (___))
    / __/ (___ ))
    / (___))
    :D//\_____(__ )/
    /’
    ‘ /’\
     
    MAAaNNnnnTTAAaappPP pisan kang Hendra,,mugia manfa’at kanggo baraya sadayana.. <3<3

  29. Nani Sawitri says:

    Abdi pituin urang Cikijing tegesna di Desa Cipulus nuju nyiar elmu di Kota Jogja, langsung merinding maos artikel iyeu.. Abdi takjub pisan kang, sampe-sampe hoyong enggal mudik ka Kampung halaman.. Ternyata seer sejarah na anu nembe terang ayeuna 😉
    Di antos Kang artikel-artikel nu sanes na, didieu abdi ngiring ku pidu’a.. Mugia lancar dina penelitian na.. Aminnnn..

  30. Nani Sawitri says:

    Abdi pituin urang Cikijing tegesna ti Desa Cipulus nuju nyiar elmu di Kota Jogja, ngaraos takjub maos artikel iyeu, sampe-sampe hoyong enggal mudik ka kampung halaman..
    Ternyata seer sejarah unik anu nembe terang ayeuna 😉
    Di antos Kang artikel enggal na, mugia lancar proses na.. Didieu abdi ngiring ku pidu’a mugia di pasihan kalancaran, Aminnnn…

  31. yayat hayati says:

    Ya allah nembe terang geuningan di sindangpanji oge aya curug,, alhamdulilah janten terang sejarah cikijing. Padahal abi asli ti sindang panji,,, janten hoyong enggal mudik ka sindangpanji..htr nuhun imfona,,,

  32. jaga raksa says:

    punten kang cobian ka pantan cigowong bendungan belanda soalna mun can di bendung ku belandamah caina kamana terusana. teras aya makam kturunan talaga deui di caket pantan teh nya eta makam aria sancanata

  33. yudhistira says:

    Merujuk ke kata CI ….cikijing ,cidulang ,cisoka ,ciinjuk …
    sama dengan bandung ….ciwidey dll ….kemungkinan dulunya bekas danau

  34. M idun says:

    Abdi waktos nuju alit. kantos maca hiji buku.. cuma hilap deui judul’na.. duka tentang kerajaan talaga manggung atanapi tentang kian santang..
    Ngan nu paling emut kana buku eta.. tentang pendeka2 yg menghindari rawa kijing..
    Karena begitu dalamnya rawa kijing itu, mereka tidak bisa menyebangi rawa itu.. hingga harus memutar perjalanan kebarat atau ketimur..
    Nah.. itu yg paling saya ingat dan garis bawahi.. dari buku itu..
    Upami wilayah iyeu memang mangrupakeun danau.. abdi tinggal di tanjung (daratan yg menonjol ke perairan) danau itu..
    Cageundang.karangsari.muktisari.. itulah tanjung itu.

    • M idun says:

      Lepat sakedik.. maksadna
      “Pendekar2”
      Kirang sahurup

    • Hutan Rimbun says:

      hatur nuhun masukanna… panginten maksud memutar ke barat (Cikesal – Jahim) atau ketimur (Cipadung-Sukarasa-Cisoka-Cibali).
      Cageundang abdi kantos ngadangu nami daerah eta nuju alit… namun ayena pernahna abdi te apal… pami teulepat ayena mah nami daerah pesawahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s